kapan pun engkau kembali
aku tak berharap banyak padamu
di akhir kata-kata yang pernah kau ucapkan
aku telah bosan, bosan seribu kali
mendengar racauan yang memikat massa
engkau hanyalah pembual yang bermuka tampan
tak berani berjuang yang sebenarnya
permainanmu hanyalah mainan badut
yang tak layak kau umbar di setengah periode zaman
aku mengutuk jika engkau kembali lagi
kutukanku tak didengar massa mu yang dikarbit media mu
aku hanyalah bocah ingusan yang menjeritkan mainan mu yang lucu
tak sempat aku menikmatinya sepuas engkau akan memerah bangsamu
di ketiak jaman sudah aku memedih
berkabung atas nama jutaan leluhur
yang telah kau khianati sedari dulu
Wednesday, June 3, 2009
rezim badut
Wednesday, May 27, 2009
tanah pusaka
maluku tanah pusaka
tanah bersejarah yang terlupakan
jazirah al-Mulk
mewangi rempah cengkeh pala
sebelum perambok eropa berdatangan
malapetaka kapitalisme datang
berabad-abad terjajah
di bawah hususan pedang
moncong meriam
dan ancaman ekspansi misionaris salib
kapitalisme dagang telah hanyut
kini neo-kapitalisme memainkan harga
lewat angka-angka ajaib di bursa uang
sampai cengkeh pala tak punya harapan
Monday, May 18, 2009
mahasiswa dan polisi
mahasiswa punya idealisme
polisi punya represifme
mahasiswa digerakkan oleh ide
polisi digerakkan lewat komando
mahasiswa kurus, makan untuk akal pikiran
polisi gemuk, makan untuk berotot
mahasiswa bergerak tanpa digaji
polisi dibayar pakai uang rakyat
mahasiswa punya kebebasan
polisi adalah robot
mahasiswa punya eros
polisi punya thanatos
mahasiswa pembela rakyat
polisi pembela penguasa
mahasiswa bersenjata kata
polisi punya senapan
mahasiswa melawan penindasan
polisi melawan kebenaran
mahasiswa bersama rakyat
polisi penembak rakyat
mahasiswa agen perubahan
polisi agen status quo
(Tamalanrea, 8 Mei 2009)
waktu
waktu begitu cepat berlalu
kian detik mendetik
hari berganti
pagi ke malam dan malam berganti pagi
poros kehidupan berputar cepat
apa yang sudah aku perbuat?
tak disadari usia menanjak tua
masa kematian mendekat jua
sementara karya kehambaan belumlah ada
waktu berbirit dipandu belaian takdirnya
titah khalifatullah masih dieja
mungkinkah jiwa yang dikalungi nafsu mampu membalik haluan?
jalan lempang di jalur sunyi
melepas jerat melompati jurang kegelapan
mengharap untuk secercah cahaya
bagi terang jalan kembali
waktu yang amat sakral
takkan boleh lepas pabila karya cinta belum terpahat
memasrah untuk keabadian
Pilihan
beberapa pilihan di depan mata
membingungkan hasrat yang tergulung dilema
aku bukan pemilih yang piawai memainkan telunjuk dan eksekusi kata
hingga beberapa masa kubiarkan mengambang
tak punya simpul kepastian
pilihan tentang baris-baris nama yang kulukis pada kecipak air
wajah-wajah pribumi yang terpacak menjadi kenangan
harap tak pasti kuumbar di tapak waktu
demi sebuah pilihan yang merisaukan seluruh dunia
ingin aku teriak bersama gemuruh hutan pinus
siang ini...
Konflik
konflik adalah kenyataan hidup
karena pluralitas sifat kemanusiaan
menjadi kodrat dari Yang Kuasa
kehendak manusia dan pilihan bebas
hidup menjadi arena bertarung
sementara manusia berperang dalam oposisi nilai
demi apakah gejolak membara tersulut di bumi?
manis dan pahit dua sisi ketegangan
hendak menuai kuasa dalam keributan masa
sumpah kutukan alam keronta
menyimpan bukti-bukti kebengisan manusia
darah dan air mata mengisi lekuk bumi
meniris membasahi puing-puing peradaban
senjata dibikin untuk memusnahkan saudara
cinta menjadi barang pajangan pencari laba
manusia melupakan cinta yang menjadi nafas dunia
istana-istana kekuasaan terbenam dalam lumpur formalisme
yang menggadaikan hakikat cinta bagi keping-keping kenikmatan hawa nafsu
kaum-kaum lemah yang mewarisi cinta menjadi korban pengemban leviathan
mereka tersedak di kolam pemusnahan
(9Mei 2009)
Masa depan
Masa depan manakah yang hendak dinikmati?
jikalau batas-batas kenikmatan telah musnah oleh mesin hasrat di dalam badan
masa depan dicandra dengan segenap daya kehidupan
padahal ia selalu tak seindah harapan
masa depan tak bedanya masa kini
penuh kecemasan dan huru-hara
ia bukanlah istana megah dengan taman indah penuh bunga
ialah teka-teki kuburan dan hawa nafsu
sebuah bingkai dari pergulatan yang tanpa nama dan tanpa sinar terang
berkjengkal-jengkal masa telah lewat
masa lalu terkubur di tanah berjejak
jejak yang menandakan kemajuan setiap safari eksistensi
retak-retak bumi adalah prasasti
bahwa langkah-langkah telah lama menatih masa
sampai pendulum waktu berhenti mengutub
masa depan tak sekedar proyeksi mimpi mengenal dunia
(9 Mei 2009)
Menulis
malam ini pikiranku tersundut masalah
karena daya pikirku jebol lumeran beban hidup
bersengkarut dalam batok kepala mencari muara
aku menulis sekedar memijit sulur-sulur saraf yang nyaris beku
menulis untuk relaksasi
(8 Mei 2009)
Mahasiswa
suara mahasiswa berkobar sepanjang masa
kirimkan mimpi buruk bagi penguasa tiran
siara yang diredam dengan pentungan
suara yang takkan surut oleh brutalitas aparat bersenjata
mahasiswa pejuang nilai kebenaran dan keadilan
tak pernah puas dengan tatanan timpang
melawan adalah perbuatan sejarah
untuk kibarkan panji Tuhan Yang Maha Benar
Tuesday, April 21, 2009
stop ideologi
kawan, berhentilah berkoar
kalau yang engkau inginkan adalah darah dan cabikan dunia dari lipatan edeologi
sebab dunia telah mempat dengan tawaran ini itu yang tak kunjung usai
dunia terlalu tak sempurna
marilah kita bicara cinta
yang terlepas dari dogma, dari hukum, dari sekat-sekat dan diskriminasi berlabel teologis
marilah merenda kain kemanusiaan yang hanif
suci tanpa kebohongan dan penindasan
kawan, ideologi itu candu
bebaskanlah dirimu darinya...
racun yang membinasakan akal sehat
dan pilihan bebas...
Sunday, April 5, 2009
apa guna
apa gunanya negara didirikan
kalau rakyat tetap miskin dari dulu
apa gunanya presiden dipilih
kalau nasib bangsa seperti ternak perah yang wajib membayar rumput yang dimakannya
apa gunanya pemilu diadakan
kalau hanya untuk politisi busuk berkibar di parlemen
apa gunanya agama kita peluk
kalau hanya menngkhotbahkan candu yang mengalienasi
apa gunanya iman di dalam hati
kalau hanya menjadi sarang egoistis yang membuat kita lupa pada tangis perut dan air mata darah
apa gunanya cinta
kalau cinta itu membuat kita diperbudak nafsu
apa gunanya partai politik
kalau kerjaannya menipu rakyat melulu
selalu sedari dulu...
Friday, April 3, 2009
buat kamu
baiklah ...
kata-kata ini
akan menebus
janjiku yang baru keluar
buatmu ...
kupilih satu dua kata
walau aku tak selalu
percaya pada bentuk
dan warna gincu
masih yang dulu
kegilaan bukan kutukan
dan engkau pun
seperti tiras koran
yang mengabarkan angka
dan jatah upah
hidup begitu suram
buat aku
Wednesday, March 18, 2009
rindu pulang
di tengah kawah pertapa
gelap di bawah tajuk lebat
hanya cericau burung dan nyanyian kadal gunung menemani sunyi
lobang-lobang batu menyiratkan kesuraman
sementara langit yang cerah di atas dedauan eucaliptus
menyengir perlahan disurut awan yang berarak cepat
udara sejuk menirapkan lecut rasa yang telah tertawan
desauan angin dari sebelah punggung cadas meradangi luka dari raga yang dilumat masa
hingga lumut-lumut kerak yang menyungging di lekuk karang tak sabar menyeletuk kecut
meronta atas kegilaan yang ditarikan jaman yang lupa akan kodrat dan selaput maut
merinding dalam sepi di kolong langit yang tengah ekstase
kawah yang mengendapkan ego diri menyulang takdir
dari anak adam yang rindu pada hamparan ilalang
demi kasih-Nya yang langsung tanpa kata
Tuesday, March 17, 2009
pulang
diantara yang hendak pulang
kakiku mengayun pelan menatih bumi
melangkah aku inginkan pulang
menjumpa Dia yang selalu aku cemarkan nama-Nya
sisa harapan kukumpulkan di tepi kali keabadian
mengharap ampunan dan secuil maaf-Nya
tiap saat kudengar bait-bait purba
menggurindam tentang peluh langkah peradaban
berlapis generasi mengurai tembang
tentang peradaban yang memoles duka,
mewarnai dendam dan mengobrak-abrik alam yang turut tersayat
sampai pada kulminasi genting deklarasi ketiadaan jalan pulang
nihilisme bagi eksistensi yang tengah menjadi
dendam tercabik di paruh waktu
lalu jalan pulang tinggal bualan
dari manusia separuh mesin
yang lupa pada panggilan cinta
oh...
Thursday, March 12, 2009
jalan pulang
laksana sebutir keong merangkak di tengah jala nelayan
yang membentang di tengah padang gersang,
arahku terhijab selaput keras bernama ego
sekian tapak aku jejaki di tanah tanpa rumput segar
lupa apa aku pada diri sendiri yang tercipta fana?
sementara luka batin makin dalam teriris
hati yang membatu tak ditembus cahaya
rupanya aku tengah dalam ketaksadaran candu
sampai kapan lagi langkah ini tak menentu arah?
aku butuh jalan kembali menuju kebun hijau
tak sekedar metafora langkah hendak kupulang
ingin menyungkur memohon setitik cahaya dari-Mu
yaa Ilahi Rabbi...
Thursday, March 5, 2009
kabar tak ada
beberapa hari menghilang
kabar tak ada
mungkin sebabnya
yang payah di aku
kata-kata kubuat
untuk kau baca
sebab beberapa hari
telah menjadi hening
awan putih tak lagi muncul
cerita hujan telah lewat
mungkinkah ini menjadi tanda
tentang titik balik yang hiperbolik
kata-kata ini kubuat
untuk kau tahu
sebab aku mencoba mengerti
tentang arti kematian
kematian dari jiwa
yang membawaku ke kawah murka
aku lah racun
yang telah kau pilih
nelayan di kampungku
aku teringat nelayan
di kampungku
yang perkasa
membelah selat
yang tak selalu ganas
di bibir seram dan bumi lease
subuh-subuh yang sejuk
mereka siap kembali
dari langgam rejeki
menjumpai anak
menemui istri
memutar roda hidup
yang merutin
sebagai nelayan
petarung yang terlupakan
di sudut negeri
Friday, February 27, 2009
Ragu
aku selalu ragu
ragu ini menggiring pada jurang
jurang yang menganga siap melahap
para peragu seperti aku
yang punya sikap tak kukuh
aku menjadi peragu
rupanya bukan karena
hendak menjadi Descartes
namun aku meragu
sebab aku tak sekokoh prinsip dalam ide
aku telah meragu
keraguan mendongkrak aku
dari kenyamanan semu
berpelanting tak tentu
sampai aku remuk
aku yang meragu
di saat ubun-ubun di bawah terik
menerawang mencari titik
yang sampai kini tak ku petik
luka budi tak bertepi
Saturday, February 14, 2009
14 Feb?
kasih sayang
di setiap hari
tak mesti
di satu hari
tempat orang
berjudi nafsu
kasih sayang
itu suci
lahir dari
hati yang suci
tak mesti
di hari khusus
tak mesti
di 14 Februari
yang punya
distrorsi makna
kasih sayang itu indah
bertumbuh di taman hati
meruap wangi
yang abadi
universal 'tuk semua umat
kasih sayang
untuk semua
sebab ia
tertiup dengan
titah cinta
kasih sayang
itu bening
seperti air
di bumi coklat
yang menjadi hijau
percikannya
memberi hidup
dan warna sejuk
bahasa cinta
dari Yang Bertahta
di arasy cinta
Saturday, February 7, 2009
sakolah
nenek berpesan
bahwa aku harus sekolah
untuk menjadi manusia
bukan semata menjadi pintar
tapi sayang sekolah-sekolah
hanya bisa memberikan aku
makna usang tentang sekolah
kakekku membisik suluh
bahwa keselamatan harus digenggam erat
genggaman cinta lewat arti pengenalan
pengenalan tentang kepasrahan kepada-Nya
sebab keselamatan takkan pernah didapat
dari tempat yang hanya mengendus laba
dan menggelembungkan buih pongah
di sekolah
bapakku punya nasihat
yang bagiku amat sakral
ketika aku hendak berangkat
tentang arti kesabaran
kesabaran di kala dunia tengah menggila
kegilaan yang tengah menelusup ke pedalaman jiwa manusia
serta menjebaknya di keranjang bumi
yang teramat dekil
dunia produk sekolah
nenek bilang
menjadi manusia tak segoblok mesin
sebab manusia bukanlah rongsokan besi
yang bermetamorfosis a la Nowton dan Francis Bacon
manusia bukanlah baris simetri
dari lajur pikir tak sampai pasti
manusia esensi cinta
bukan besi bukan belati
bukan seperti orang sekolah
kakekku bilang
belajar itu di mana saja
sebab ilmu tak sebatas bangku sekolah
yang saat kini amat mahal biayanya
dunia sekolah dunia mencari harta
siapa berharta dia ke sekolah
dunia sekolah dunia feodal baru
bagi si miskin tak boleh sekolah
bapak punya nasihat
bahwa sabar adalah senjata
kala hidup h dibajak tiran
tiran dari komplotan besar yang tengah berkuasa
kekuasaannya adalah mimpi buruk
dan mimpi buruk selalu datang menjenguk
di kamar tidur rakyat miskin penghuni bumi
yang menjelempuh remuk
remuk oleh perasan rezim pasar
yang tangannya mencengkeram dunia
rezim modal yang sibuk menguras pesona selangkangan
dan mengirimkannya menjadi kado gentayangan
di jendela-jendela jiwa manusia
ibuku bilang
menjadi manusia tak sedangkal menjadi sarjana
sarjana dari dunia proses yang tampak prosedural
dunia sekolah dunia kita sekarang
Friday, February 6, 2009
sepi
jangan,
janganlah kau sumpahi nasib
yang cepat meruap sirna
jangan,
janganlah kau sobeki takdir
yang menggilas perhitungan
aku bukanlah pelukis nasib yang piawai
aku hanyalah pecundang takdir
suratmu aku tunggu
takdirmu bukan sulapan
kini aku tergugu dungu
menanti kabarmu yang dulu
maaf kupahat
di kedua garis langit
sepi di kolam nasib
Thursday, February 5, 2009
milad HMI
5 februari milad HMI
62 tahun usia sepuh
semenjak 1947
era revolusi
organisasi mahasiwa islam
yang kini besar
dengan jumlah kader banyak
membentangi penjuru barat sampai timur Indonesia
hampir setiap kota
ada HMI
sudah banyak yang tersumbang bagi bangsa
lewat kader hijau hitam
ada sumbangsih tak terkira jua
ada pula kader-kadernya yang terbukti korup
yang ikut membawa bangsa menuju kebangkrutan
tapi di usia yang cukup senja ini
apakah HMI bisa berkiprah konstruktif lagi
sebagai solution maker bangsa
yang tengah dirubung krisis multimasalah ini?
PR besar tengah menanti
di pundak kader-kader progresiflah amanah itu
bisa terbawa
tentu saja kader progresif yang punya integritas
sebagai intelektual bermoral
ulil albaab
panjang umur HMI
sejahteralah bangsaku
semoga usaha sampai
bocah kumal
seorang bocah kumal
di umur sembilan tahun
terhimpit rongga perutnya
oleh karung pengisi sampah
di sela gedung kampus merah
bocah sekecil itu harus bekerja
membantu orang tuanya berhari-hari
karena roda hidup mesti mengguling
demi sesuap nasi yang semakin mahal
di kota ini
bocah gesit berwajah dekil
proletar cilik di kandang urban
ia tak sempat mengecap sekolah
karena tempat itu teramat mewah
bagi si bocah yang secepat itu
ikut membanting tulang
Na
aku tergerabak di pagi buta
oleh resikan lembut
yang menyapa
dia meniupkan mantra
pada diri yang telah payah
mendupaki segala mimpi
dia mengulurkan tangan
saat aku tengah terondol
dan frustrasi di kolong langit
dia menawarkan senyum
kala pikiranku tengah skeptis
menyumpahi hidup
dia mengajakku bercanda
ketika ruang batin tengah gersang
dia yang memberiku rasa
ketika selaput rasa itu
telah bernanah
damailah muslim maluku
basudara e...
tahan-tahan diri jua o...
masa' katong seng malu par dunia
di sana basudara muslim Palestina
sedang berjuang melawan Israel
tapi di sini katong sesama muslim Maluku
baku bunuh
basudara e...
tahan-tahan diri jua o...
coba katong baca sejarah lagi
di provinsi ini di mana-mana
selalu saja muslim-muslim yang berkonflik
sesama tetangga negeri
baku bunuh
basudara e...
tahan diri jua o...
Hitu-Wakal, Hitu Lama-Hitu Mesen, Pelauw-Kailolo, Kabau-Kailolo,
Rohmoni-Kailolo, Banda Eli-Kailolo...
selalu sesama muslim katong baku serang, baku potong, baku teror, baku tembak, baku bom
sampe' sekarang
basudara e...
tahan-tahan diri jua o...
mau sampe' kapan akang bagini tarus...
lihat orang nasrani aman-aman saja
dong kehidupan, dong pung sekolah, dong pung kerja seng terganggu
mangapa katong sesama muslim
tarus baku musuh?
basudara e...
tahan-tahan diri jua o...
atas nama ukhuwah katong samua basudara
atas nama Allah ta'ala mari katong berdamai jua
untuk Islam jua lah katong bapegang tangan satukan cita-cita
atas nama kemanusiaan mari katong bicara dengan cinta
sudah jua abang
sudah jua oom
sudah jua wate...
kay puna ma'inyo eya wa'a reha basudara
ehenala Islamu ekuhu eke Maluku o...
Wednesday, January 28, 2009
awalnya
awalnya tak begini
aku mengenalmu beberapa ikat bulan lalu
selembar potret mata bening
awalnya tak begini
aku mengakrabimu di penggal musim hujan tahun lalu
sikapmu yang membuat aku terjompak liar menendang langit
awalnya tak begini
aku begini gagu tak mengerti sebuah ketidakrasionalan yang menindih
selalu merasa revolusi sedang melata dalam darah
Sunday, January 25, 2009
cerita tentang hujan
cerita tentang hujan
di pangku sore dan pagi hari
ketika kolong langit dirudung sendu
di bulan januari
cerita tentang hujan
pada titah suci yang berkitar di padang jiwa
saat rindu merajuk gunung
puncak haru memetik mimpi
cerita tentang hujan
pada gelayut putih yang menirai langit
saat dingin meremuk rusuk
ada setangkup kangen di titik bening
cerita tentang hujan
pada imaji liar yang meraung ganas
bebas berlarian di bibir kawah kutukan
demi memetik rindu dari edelweis yang tengah mekar
cerita tentang hujan
dari kupu-kupu yang terbang mencari pucuk
saat gunung dan pulau-pulau mematung bisu
meningkahi sayap putih yang merentangi dua hati
duka negeriku, dukakah maluku?
dendam merubungi dada
pikiran waras enyah di ketiak
parang berbicara
saudara membunuh saudara
teror merajalela
maningkamu tutup buku
senjata menderum
Pelauw dan Kailolo perang lagi
bara luka kini tergorek
dendam satu dibalas dendam lain
bageti meledak, kelewang bersambut
muslim-muslim meregang nyawa
amarah beranak pinak
barisan korban telah mengiris sejarah
kini negeri-negeri itu masih berperang
mengubur kemanusiaan menanam kesumat
kabar buruk menubruk sukma
merobek-robek titah kasih sayang
negeriku dan negeri saudaraku
tenggelam di kawah permusuhan
Thursday, January 15, 2009
pekan neraka
pekan neraka
bagiku yang sedang hancur
jiwa tersundut nar
jadi tembikar
keras membatu
jauh dari nur
susut melepuh
pekat menjelaga
pekan neraka
bagiku yang tengah sekarat
rapuh menjelempah
tengadah mengepul sukma
ruang batin jahannam
buih-buih meriak
berpelantun dalam dada
bercat gosong
pekan kutukan
tanganku meraba-raba
ingin lekas aku terjaga
dari mimpi buruk
yang bikin mampus
ingin segera kutemui dia
yang puasa jemari
di pekan ini
mati lagi
jam dinding menderum
langit pucat di celah loteng
urat-urat mengejang
nelangsa
mati
tak berguna nafas menyemprot
toh diri ini telah sekarat
dibawa ke simpang asa
hancur semua
neraka
izrail kutantang segera
jiwa bertanduk iblis
hidup telah percuma
hitam memerah
aku mati
Wednesday, January 14, 2009
mati
kematian selalu datang dan pergi
membawa mantra-mantra aneh
yang tak bisa kurangkai dengan lajur-lajur bait
ia datang dengan sebilah belati yang haus nyawa
tegak harapnya memanen maut
mati harus disauh
suluh-suluh jiwa lamat-lamat padam
gelap menatap
semua sirna tanpa ruapan warna
berkali-kali mati
hilang entah kemana
bau busuk dari jiwa yang amis
yang hanya mengonggok rupa semu
mati berkali-kali
tahu
kini kutahu
bahwa aku tak tahu
aku pasti
kini kutahu
bahwa aku salah
aku pasti
kini kutahu
bahwa aku tak pasti
itu pasti
Sunday, January 11, 2009
bening
hari ini hariku putih
putih seputih langit di atas sana
di ujung daun-daun pakis
yang segar bermandi hujan
sore ini
hari ini hariku putih
putih seputih awan
yang tak kelihatan berarak
mungkin dikulum badai langit
seharian
hari ini hariku putih
putih seputih sagu tumang
yang diseduh dengan waelapiya
sedari dulu sampai kini
lumbung orang lease
hari ini hariku putih
putih seputih pandanganku yang kosong
hanya diam selalu selalu diam
karena hatiku inginkan yang putih mengitar
hati bening aku rindu
Wednesday, January 7, 2009
warna
yang terpacak lewat bendera ilmu
yang berkibar ria
dan semburat hikmahnya dari rajutan benang-benang indah
senantiasa bergetar-getar di muka bumi
oleh para perindu kebenaran
Monumen cinta
yang tiang-tiangnya ditegakkan
sebagi tanda keteguhan asa
Asa dari keteguhan prinsip jiwa
merindukan iluminasi 'cahaya' Al Haq
Tiang diantara tiang-tiang
Mereka punya warna
beraneka rupa bercengkerama
dengan maqom-maqom kebenaran
Kebenaran bermacam-macam rupa
tertulis dari warna
dan kilatan simbol-simbol hikmahnya.
Aneka dalam pusaran wihdah...
Sunday, January 4, 2009
tragedi kampus merah
di jalanan depan kampus merah mereka berjejer
pukul sebelas jelang tengah hari di bawah siraman hujan
berpuluh mahasiswa membentuk simpul lengan
kiri kanan mengait-ngait siku
siap menantang siapa saja yang akan mengganggu ritus ini
ritus yang sudah tua dari nenek moyang pergerakan masa silam
anak-anak muda dari kampus yang sedang berhelat ujian akhir semester harus turun ke jalan
meneriakkan ketidakadilan, mengutuki kezaliman,
menendangi bokong rezim negara yang telah menjadi boneka modal
barisan itu berjejer di belokan depan pintu kampus
mereka mengamputasi kesibukan hari itu,
memberi isyarat darurat buat warga pemakai jalan
bahwa hari itu dunia tengah dibelokkan ke dalam mulut naga yang ternganga lapar
alamat celaka bagi rakyat marjinal di bumi kaya tapi miskin ini
indonesia tanah air para pemodal
langit hitam pekat seolah turut menangisi ironi dunia
ia mencurahkan duka pilunya sekuat hati karena jutaan umat yang telah diberi khianat
tak kuasa menatapnya dari atas sana, sebuah negeri dengan berlapis-lapis kisah pilu manusia
lalu jarum jam mendetak cepat...
waktu berlari terbirit-birit dikejar harapan-harapan ratusan mahasiswa
yang tak sabar menunggu pertarungan yang menggemaskan
megafon meraung-raung...
teriakan-teriakan berkobar
membakar semangat para laskar rakyat
yang hanya 'memanggul' pena
lahar panas berkecamuk di balik kaos oblong dan kemeja,
dingin pun urung berkemul lama-lama
satu dua jam menunggu...
dan yang dinantikan pun tiba
segerombolan pembunuh yang mengenakan seragam coklat tahi kuda
alat negara yang bahkan pakaian dalamnya pun dibelikan dari keringat rakyat ini menyerbu kampus rupanya hendak membunuh anak-anak muda yang bersemangat itu
seperti mau menumpas para kriminal narkotika dan teroris saja
pentungan penangkis batu di depan lalu senjata terpacak di pinggang, tak lupa intel-intel berbadan gempal rambut gondrong mengirimi teror di barisan samping
semuanya menyerang...
baik polisi baik intel menyerbu ke dalam kampus seperti gerombolan iblis yang tiba-tiba lupa aturan
kampus dikira sarang penyamun
bentrokan pun terjadi
kejar-kejaran
batu beterbangan
lalu...
pasukan berseragam tahi kuda itu semakin mendekati rektorat
mahasiswa yang tak bersenjata bedil dan revolver itu hanya bisa bertahan dan terus mundur
polisi mendesak masuk terus merangsek dengan semangat alat kekuasaan
tiba-tiba...
kebiadaban pun terjadi
mahasiswa yang terjebak kerumunan saat mundur ditangkapi dan dianiaya
mereka dipukuli, diinjak, diseret, sampai babak belur
lalu ditawan seperti gembong perompak di lautan tanduk afrika
sungguh pilu ...
alat negara alat kekuasaan alat penindasan alat kebiadaban...
sebuah pembodohan serius yang terbit lewat Undang-undang Badan Hukum Pendidikan
dikawal oleh alat-alat ini seperti marsose kompeni mengawal kebijakan kultuurstelsel di jaman kala moyang-moyang kita diperas habis-habisan oleh penjajah eropa
penindasan secara sistemik oleh negara atas rakyat yang tak berdaya lagi
berulang-ulang kali lakon drama ini mementas di alun-alun negeri
negeri yang tiang-tiang rumahnya bahkan telah lapuk akibat lignin-lignin mengkilapnya telah dikeruk habis oleh serangga-serangga tengik yang sayap dan siripnya mampu mengantarkannya melintasi negara dan benua sebagai agen transnasional dan multinasional corporations
agen kapitalis dunia
pemerintah tak bedanya nyonya genit yang doyan mencari selingkuhan para pemodal buncit
ia bermain cinta di luar sana
sementara di dalam, seolah-olah sebagai lembaga yang paling terhormat di negeri ini
akal sehat dan logika sadar sudah tak bisa menolak arti perlawanan mahasiswa
bahwa bahasa mahasiswa dan perlawanan rakyat yang selalu terbungkam oleh alat kekuasaan, alat mati, alat teror, alat peot, alat bonyok itu sudah takkan bisa lagi terbendungi
ingat..!!!
kebenaran akan selalu menang...
sementara ketidakadilan dan kezaliman harus tekuk di bawah hentakan semangat juang kaum tertindas
rakyat harus menang...
kemenangan yang bukan seperti jargon-jargon palsu para caleg pemilu itu
hari itu...
17 Desember 2008
hari ketika pendidikan Indonesia telah sekarat
digorok dengan pedang damocles yang bermata dua
rezim SBY-JK
hidup mahasiswa...!
Thursday, January 1, 2009
buta...
aku mengenal dia
baru setahun lalu
jabat hangatnya yang pertama
dengan segumpal senyum
pada suatu sore di pulang kuliah
saksi jalanan kampus tua kota juragan
aku baru mengenal dia
ketika bulan di umur sebelas
gadis lucu dengan suara yang amat lembut
telah dia pasangi seutas jerat yang menyimpul di kedua tangan
lalu mata ini telah tertutup, aku seperti orang buta
tertawan ke seberang sana kampung melayu
belum lama aku mengenal dia
gadis pemilik kerudung biru muda
dengan syal coklat menjuntai dari bahu
hatiku dibuat meriut
kala menatapnya dari lorong kesadaran
pualam wajah yang menggemaskan naluri falus
sore itu
Wednesday, December 31, 2008
palsu
dunia tidak adil,
politik tinggallah pelatuk yang mengabsahkan berjuta orang meregang nyawa
palestina, o' palestina...
dunia memang kerdil,
lembaga sejagat hanyalah nyonya meneer yang tetap membisu di depan bendoro feodal
racun tengik...
dunia hanyalah akuarium,
di luar terlihat indah, di dalam penuh kekangan dan penderitaan
korban tata dunia bejat...
Wednesday, December 24, 2008
dia
awalnya tak sengaja kujumpai dia
perkenalan yang biasa saja
tak ada rintik hujan, tak ada kembang melati
panas mentari tetap biasa, kucing mengeong pun biasa
lalu roda waktu berputar, aku berhembalang tanpa arah pasti
tak ada oase tempat aku menambatkan penat
pencarian yang nyaris tanpa arti
pasrah kuturuni lembah suram
di punggungku kengerian batu cadas
bekal hanyalah pucuk-pucuk angsana
mungkinkah itu? sangat mungkin karena
ini hanyalah dongeng biasa yang kadang
menjadi basi, selalu diulang, mau lagi diputar ulang
dongeng dari imaji para pencari
kutemui dia di tengah gunungan sampah,
di ngarai angker, di keramaian pasar, di sekolah-sekolah biksu
dia yang tak mau disebut namanya karena menabukan sombol-simbol
peri yang tak bertongkat, biksu yang melukis parodi di kanvas kuning
imam yang mengangkat megafon di jalanan menombaki tiran dengan ayat suci
lalu aku hanyalah pencari yang selalu mengembara
sahara di tanduk hitam kugoresi, lalu ingin kusapa murid Dalai Lama yang teguh bersemedi di ketiak himalaya dan Aung San Suu Kyi di rumah sekap...
dia yang menjadi metafora tak pernah lekang dalam rinai jiwaku
puyenk
dia yang baru aku kenal
tingginya semampai
bodinya aduhai
matanya indah
menawanku dalam pekatnya kabut pagi
pikiran warasku terjerat
jiwa terpilin benang-benang putih
merajut dalam hening
mengepakkan sayap menusuk atap mimpi
dalam mabuk indah para darwis
menggumam syatahaat dari lengkingan burung attar
terbang meninggi berarak kepulan nujum
telah beribu doa kupanahkan ke langit
demi memagut bibir indah itu
demi kupetik kuncup yang baru mekar
aku mengenal dia di kampus hijau
wajah indah merembang pesona
tapi haruskah aku menjadi maniak tubuh?
penikmat rona pipi tembam, wajah imut dan manis itu?
o' begitukah rasanya menjadi lelaki
yang mengokang tegaknya jati diri dengan nalar kelamin?
hu... hu... huu...
Sunday, December 14, 2008
hukumku hukum kamu
kemarin kau bertanya, aku menjawab tak tahu
kemarin kau menuduh, aku tak bergeming
kemarin kau mendakwa, aku tetap begini
kemarin dan hari ini aku menang
besok pula akan aku beli semua tuduhmu
mulut pintarku mampu melipat-lipat
akalku jalan, siapa peduli mereka
aku bukan bunga bangkai
yang mudah kau rajangi kenalpot busuk
aku hanyalah pembeli yang enggan diusik
hukum adalah permainan
tempat aku berselancar bebas
dengan duit aku di atas angin
karena dengan mudah aku menyumpali mereka
yang katanya punggawa hukum itu